Ledakan internal disebabkan oleh bertubrukannya dua buah keinginan dan dua buah perasaan yang bertolak belakang sehingga mengakibatkan sebuah bola api mematikan yang menelan apa saja yang bisa ditelan.
Ledakan Internal ini berakibat buruk kepada pemilik perasaan karena dirinya runtuh ditelan bola api itu.
Sebagai manusia ,kita pasti memiliki banyak pengalaman tentang manusia dan bagaimana manusia memiliki dinamika yang begitu kompleks, sehingga hal yang paling batu pun dapat di luluhkan dengan bermodal akal budi dan perasaan manusia yang begitu dalam, melebihi segala makhluk.
Namun, apakah korelasinya dengan ledakan internal?
Bayangkan jika anda dihadapkan dengan sebuah situasi dimana anda harus memilih diantara dua hal yang begitu penting. Nah, ledakan internal ada di situ. Begitu juga ketika anda harus membuat keputusan dimana anda akan kehilangan sesuatu namun anda akan memperoleh sesuatu yang lain. Atau misalkan, maukah anda kehilangan 2 hal demi 1 hal ,atau 1 hal demi 2 hal dengan konsekwensinya? Terkadang bisa 2 hal atas 3 hal, atau 3 hal atas 2 hal, dan tidak pernah ada sesuatu yang enak dalam memilih. Kalau disuruh memilih punya rumah mewah atau mobil mewah? Ga bisa punya dua-duanya, tapi pilihannya asik semua. Mantap kan? Tapi tetap aja cuma dapat satu. Itulah inti dari memilih.
Kalau kita milih masuk surga atau neraka, so pasti milih masuk surga. Konsekwensinya? Ya kita harus benar-benar berbuat baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan itu ga gampang. Beberapa kali kita bohong dalam satu hari, untuk menyelamatkan diri kita dari sesuatu yang ga seberapa dibandingkan dilempar ke neraka? Berapa kali juga kita bohong terhadap diri sendiri, berpikir bahwa perasaaan kita begini padahal begitu? Berbohong bahwa kita setuju padahal tidak setuju tapi harus berbohong demi sesuatu, dsb. Penyangkalan atas diri sendiri dalam taraf yang merugikan. Hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari sebenarnya udah mencemarkan diri sendiri.
Milih masuk neraka dan jadi jahat total? Ya ga gampang juga. Sebagai manusia, kita masih punya hati untuk berbuat baik. Kalau Hitler aja bisa mencintai, kenapa kita sebagai orang biasa ga bisa? Penjahat kelas kakap aja masih mau mikirin keluarganya, dan ga bakal ngorbanin keluarganya. Dan kalau anda termasuk orang yang pada awalnya memang baik hati, selama anda masih punya suara hati, maka niat jahat pun susah munculnya. Kenapa? Karena perasaan ga enak dari conscience kita. Kalau conscience kita udah corrupt gara2 kita terlalu banyak bikin excuse akan kesalahan kita, ya itu urusan kita. Tapi masuk neraka pun juga ga segampang itu.
Jadi, mikirin mati aja masih ada 2 pilihan (2 1/2 buat orang Katolik , plus api penyucian),apalagi ketika hidup dimana pilihan ada beribu, dan masing-masing pilihan kadang memiliki batas-batas yang hanya setipis kertas dibandingkan pilihan lainnya. Misalkan, pilih jalan sama Cynthia apa Cindy? Nah, hal ini kadang terlihat simple, namun kalau ditelusuri, ada hal lebih kompleks.
Cynthia itu cantik dan pintar, juga kalem dan dewasa. Orang tuanya cukup kolot dan sulit percaya terhadap cowok-cowok, karena mereka tahu anak perempuan mereka cantik, jadi ya, wajar aja lah. Hobinya nyanyi, ikut vocal group, dan hal-hal yang religius (btw dia seiman sama elo)
Cindy tidak secantik itu, tapi dia classy dan berselera tinggi. Agak galak, tapi lebih keibuan dan rada care gitu deh. Orang tuanya agak aneh, tapi lebih santai. Hobinya musik klasik dan literatur.
Nah, anggaplah ngajak jalan ini adalah start awal anda untuk memulai suatu hubungan. Mau pilih yang mana? Preferensi masing-masing akan sangat berperan. Pandangan ke depan juga akan berperan. Bahkan, pilihan anda di awal ini akan sangat menentukan masa depan elo sendiri.
Ledakan Internal. Tidak bisa dihindari, tidak bisa dipungkiri. Hanya bisa dimaklumi dan diatasi dengan kesabaran.